Beranda | Artikel
Gigihnya Dakwah Nabi Nuh Alaihis Salam
20 jam lalu

Gigihnya Dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 19 Ramadhan 1447 H / 9 Maret 2026 M.

Kajian Tentang Gigihnya Dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam

Namun, selama kurun waktu tersebut, kaumnya justru menunjukkan kekufuran, pembangkangan, kesombongan, serta bersikeras tetap berada dalam kesyirikan dan maksiat. Setelah sekian lama menghadapi penolakan, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam akhirnya mengadukan urusan kaumnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pengaduan yang paling utama adalah pengaduan yang ditujukan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berkata sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an:

قَالَ نُوحٌ رَّبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَن لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا

“Nuh berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai aku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya’.” (QS. Nuh[71]: 21)

Kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam melakukan tipu daya yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’.” (QS. Nuh[71]: 23).

وَقَدۡ أَضَلُّواْ كَثِيرٗا ۖ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا ضَلَٰلٗا

Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (QS. Nuh[71]: 24)

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam juga mengeluhkan bahwa setiap kali beliau menyeru mereka kepada kebenaran agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni mereka, kaum tersebut justru semakin menjauh.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا

“Dia (Nuh) berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu tidak menambah bagi mereka kecuali lari (dari kebenaran)’.” (QS. Nuh[71]: 5-6).

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوۡتُهُمۡ لِتَغۡفِرَ لَهُمۡ جَعَلُوٓاْ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَٱسۡتَغۡشَوۡاْ ثِيَابَهُمۡ وَأَصَرُّواْ وَٱسۡتَكۡبَرُواْ ٱسۡتِكۡبَارٗا

“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (palingkan diri) serta menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh[71]: 7)

ثُمَّ اِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَا رًاثُمَّ اِنِّيْۤ اَعْلَـنْتُ لَهُمْ وَاَ سْرَرْتُ لَهُمْ اِسْرَا رًا

“Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan, Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam.” (QS. Nuh[71]: (8-9)

Beliau senantiasa menganjurkan agar mereka memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Dialah Yang Maha Pengampun. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berkata:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun’.” (QS. Nuh[71]: 10)

Namun, kaum Nabi Nuh tidak hanya berhenti pada kekufuran dan pembangkangan. Mereka bahkan mulai mengolok-olok beliau dan menantang agar azab yang dijanjikan segera diturunkan. Mereka berkata:

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Mereka berkata, ‘Wahai Nuh! Sungguh, engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang yang benar’.” (QS. Hud[11]: 32)

Kasih Sayang Para Rasul terhadap Umat

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para nabi dan rasul sebagai rahmat bagi sekalian alam. Oleh karena itu, para rasul merasakan kesedihan yang sangat mendalam ketika melihat kaumnya berkubang dalam kekafiran. Hal ini pun dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kesedihan beliau atas pembangkangan dan keberpalingan kaumnya hampir saja membinasakan diri beliau sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menenangkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar tidak larut dalam kesedihan yang melampaui batas melalui firman-Nya:

فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“…maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Fatir[35]: 8)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (karena sedih), karena mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 3)

Hal ini menunjukkan betapa besarnya rasa sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umat manusia. Beliau tidak hanya menyayangi manusia, tetapi juga memberikan kasih sayang kepada binatang. Sifat inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap dai; mendasari dakwah dengan rasa sayang, bukan dengan tujuan menghakimi atau mengkafirkan orang lain demi menjebloskan mereka ke dalam neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasakan kesedihan yang amat mendalam ketika mendapati kaumnya memilih kekufuran. Kesedihan beliau begitu besar hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan seolah-olah beliau hendak membinasakan diri sendiri karena rasa duka tersebut. Hal ini menjadi teladan bagi umat Islam untuk senantiasa memiliki rasa sayang kepada sesama, bukan justru merasa senang jika ada orang yang terjerumus dalam kekafiran. Kelompok takfiri yang gemar mengkafirkan orang lain selain kelompoknya sendiri sangat jauh dari akhlak mulia Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang penuh kasih sayang kepada umat manusia.

Hiburan Allah untuk Nabi Nuh ‘Alaihis Salam

Sifat penuh kasih dan rasa sedih atas kekafiran kaum juga dimiliki oleh Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Beliau sangat berduka atas pembangkangan kaumnya yang terus berlangsung selama ratusan tahun. Setelah masa dakwah selama 950 tahun, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan wahyu sebagai pengingat sekaligus hiburan bagi beliau. Allah mengabarkan bahwa tidak akan ada lagi yang beriman dari kaumnya selain mereka yang telah beriman sebelumnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَن يُؤْمِنَ مِن قَوْمِكَ إِلَّا مَن قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat.” (QS. Hud[11]: 36)

Firman Allah فَلَا تَبْتَئِسْ (janganlah engkau bersedih hati) merupakan hiburan serta penguatan hati bagi Nabi Nuh ‘Alaihis Salam atas gangguan dan perlakuan buruk kaumnya. Pesan ini menegaskan agar Nabi Nuh tidak lagi membebani diri dengan kesedihan atas pilihan kaumnya yang enggan bertaubat. 

Setelah mengetahui melalui wahyu bahwa kaumnya akan terus-menerus berada dalam kekafiran dan pembangkangan, serta tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk beriman, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam akhirnya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar membinasakan kaum tersebut. Beliau berdoa agar bumi dibersihkan dari keberadaan orang-orang kafir yang membangkang.

Doa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا

“Nuh berkata, ‘Wahai Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi’.” (QS. Nuh[71]: 26)

Nabi Nuh memohon agar tidak ada satupun dari mereka yang dibiarkan hidup menetap di atas muka bumi. 

إِنَّكَ إِن تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

“Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan sangat kafir.” (QS. Nuh[71]: 27)

Kepasrahan dan Permohonan Pertolongan

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengadukan pendustaan kaumnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau memohon adanya keputusan yang jelas antara beliau dan kaumnya, serta memohon keselamatan bagi orang-orang mukmin yang menyertainya.

قَالَ رَبِّ إِنَّ قَوْمِي كَذَّبُونِ فَافْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dia (Nuh) berkata, ‘Wahai Rabbku, sungguh kaumku telah mendustakan aku, maka berilah keputusan antara aku dengan mereka, dan selamatkanlah aku dan mereka yang beriman bersamaku’.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 117-118)

Puncak dari kesabaran dan kepasrahan beliau terlihat ketika beliau merasa telah dikalahkan oleh keadaan karena tidak ada lagi yang dapat menolong dari gangguan kaumnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berseru:

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانتَصِرْ

“Maka dia (Nuh) mengadu kepada Rabbnya, ‘Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku)’.” (QS. Al-Qamar[54]: 10)

Dalam ayat lain, beliau juga memohon:

قَالَ رَبِّ انصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ

“Dia (Nuh) berdoa, ‘Wahai Rabbku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku’.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 26)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Allah menegaskan bahwa Dialah sebaik-baik Zat yang memperkenankan doa hamba-Nya yang dalam kesulitan.

وَلَقَدْ نَا دٰٮنَا نُوْحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيْبُوْنَ

“Dan sungguh, Nuh telah berdoa kepada Kami, maka Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa.” (QS. Ash-Saffat[37]: 75)

Allaah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَنُوْحًا اِذْ نَا دٰى مِنْ قَبْلُ فَا سْتَجَبْنَا لَهٗ فَنَجَّيْنٰهُ وَاَ هْلَهٗ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِ

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu, ketika dia berdoa. Kami perkenankan (doa)nya, lalu Kami selamatkan dia bersama pengikutnya dari bencana yang besar.” (QS Al-Anbiya[21] : 76)

Ketentuan ini semakin meyakinkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk mengabulkan doa setiap hamba. Namun, perlu diingat bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menurunkan azab kepada suatu kaum secara langsung sebelum tegaknya hujjah atas mereka. Keadilan Allah menuntut adanya peringatan terlebih dahulu sebelum hukuman dijatuhkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“…dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra[17]: 15)

Suatu negeri tidak akan dibinasakan melainkan setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus pemberi peringatan kepada penduduknya.

وَمَا أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلَّا لَهَا مُنذِرُونَ

“Dan Kami tidak membinasakan suatu negeri pun, melainkan setelah ada orang-orang yang memberi peringatan kepadanya.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 208)

Prinsip keadilan ini terus dijaga; sebuah peradaban hanya akan diazab jika mereka tetap membangkang setelah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala datang menyampaikan kebenaran.

Keadilan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Mengutus Rasul

Setiap mukmin hendaknya membiasakan diri membaca ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berdalil dengannya. Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menghancurkan suatu negeri sebelum mengutus seorang rasul di ibu kotanya untuk membacakan ayat-ayat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا

“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri sebelum Dia mengutus di ibu kota negeri itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka.” (QS. Al-Qashas[28]: 59)

Allah ‘Azza wa Jalla telah menentukan pembinasaan kaum Nabi Nuh dengan cara menenggelamkan mereka semua untuk membersihkan bumi dari kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki otoritas mutlak atas segala ketetapan-Nya dan tidak ada yang dapat menggugat keputusan-Nya.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya[21]: 23)

Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghendaki keburukan atau azab bagi suatu kaum, tidak ada satupun kekuatan yang dapat mencegahnya, dan tidak ada pelindung selain Dia.

Pentingnya Ketaatan pada Syariat

Ayat-ayat Al-Qur’an memberikan keyakinan bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dapat memberikan manfaat dan mudarat. Oleh karena itu, manusia tidak boleh membangkang dan harus senantiasa taat pada aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dimanapun seseorang hidup, baik dalam suatu negara maupun instansi pekerjaan, pasti terdapat aturan yang mengikat. Demikian pula sebagai hamba, manusia terikat dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seseorang yang menginginkan kebebasan tanpa batas dan enggan terikat dengan aturan agama sesungguhnya sedang menyiapkan diri menuju api neraka. Perbandingan panas antara api dunia dan api neraka sangatlah jauh. Panas api di dunia, mulai dari api lilin hingga lahar gunung berapi, sudah cukup untuk mematikan manusia. Sebagai gambaran, jika jari diletakkan di atas api lilin selama satu menit saja, kulit akan melepuh dan tidak ada manusia yang sanggup menahannya. Namun, api neraka memiliki panas 69 kali lipat lebih dahsyat dibandingkan api dunia.

Neraka merupakan tempat yang sangat dalam dan mustahil bagi penghuninya untuk melarikan diri. Kedalamannya digambarkan dalam hadits bahwa sebuah batu yang dilemparkan ke dalamnya memerlukan waktu 70 tahun untuk mencapai dasarnya. Begitu seseorang ditetapkan menjadi penghuni neraka, ia akan diliputi oleh api dan tidak akan bisa keluar darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

“…dan mereka tidak akan dapat keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah[2]: 167)

Api neraka sangat panas sehingga keinginan untuk hidup bebas tanpa terikat aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sebuah kesombongan yang harus dipertanggungjawabkan sendiri. Setiap muslim hendaknya berusaha untuk taat dan bersabar di atas jalan Islam, meskipun kehidupan dunia terkadang terasa berat. Menjadi orang saleh sesungguhnya adalah sebuah kenikmatan, karena Allah ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan balasan yang tidak terbayangkan.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia.” (HR. Bukhari)

Segala keindahan, suara yang nyaman, maupun bayangan paling indah di dunia ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan surga. Segala buah-buahan di sana, seperti apel, mungkin terlihat serupa dengan yang ada di bumi, namun memiliki hakikat dan rasa yang sangat berbeda. Kenikmatan tersebut disediakan khusus bagi hamba yang patuh pada aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perintah Pembuatan Bahtera Nabi Nuh ‘Alaihis Salam

Para nabi dan rasul diutus dengan kasih sayang agar umatnya tidak kufur dan terhindar dari neraka. Namun, kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam justru memilih untuk membangkang. Setelah sekian lama berdakwah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akhirnya memerintahkan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam untuk membuat sebuah bahtera atau kapal besar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan ketegasan agar Nabi Nuh ‘Alaihis Salam tidak lagi membicarakan nasib kaumnya yang zalim, karena keputusan untuk menenggelamkan mereka telah ditetapkan. Perintah ini tertuang dalam Al-Qur’an:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Hud[11]: 37)

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam segera melaksanakan perintah tersebut dan mulai mengerjakan pembuatan bahtera.

Ejekan dan Kesabaran Nabi Nuh ‘Alaihis Salam

Selama proses pembuatan bahtera, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam terus mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Setiap kali para pemuka kaumnya berjalan melewati beliau, mereka mengejek, menghina, dan mengolok-olok tindakan beliau membuat kapal besar di tempat yang jauh dari perairan. Di antara mereka ada yang mencela dengan mengatakan bahwa kemarin beliau adalah seorang nabi, namun sekarang telah beralih profesi menjadi tukang kayu. Mereka meragukan kewibawaan beliau dan bertanya apakah beliau sudah tidak ingin lagi menjadi nabi.

Selain itu, mereka mengejek logika pembuatan bahtera tersebut karena dibangun di daratan yang jauh dari lautan maupun sungai. Mereka bertanya dengan nada merendahkan, apakah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam telah menyiapkan banteng atau sapi jantan untuk menyeret kapal tersebut, atau justru mengandalkan angin untuk membawanya. Ketidakpercayaan mereka membuat mereka merasa bahwa tindakan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam tidak masuk akal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan situasi tersebut dalam Al-Qur’an:

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُواْ مِنْهُ قَالَ إِن تَسْخَرُواْ مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ

“Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melintasi Nuh, mereka mengejeknya. Berkata Nuh: ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)’.” (QS. Hud[11]: 38)

فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ۙ مَنْ يَّأْتِيْهِ عَذَا بٌ يُّخْزِيْهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَا بٌ مُّقِيْمٌ

“Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan (siapa) yang akan ditimpa azab yang kekal.” (QS Hud[11]: 39)

Tanda-Tanda Datangnya Azab

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan petunjuk kepada Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengenai tanda-tanda yang harus diperhatikan sebagai peringatan untuk segera naik ke bahtera. Tanda tersebut sangat tidak lazim, yakni keluarnya air dari tanur atau tungku pembakaran dapur. Secara logika, tempat membakar api tidak mungkin mengeluarkan air, namun itulah tanda kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla bahwa banjir besar akan segera tiba.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing jenis sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah ditetapkan terdahulu (akan ditenggelamkan) dan muatkan pula orang-orang yang beriman’. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud[11]: 40)

Hewan-hewan memiliki insting yang lurus untuk menuruti perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan naik ke bahtera, sementara manusia yang memiliki akal yang sakit tetap memilih untuk membangkang meski telah didakwahi selama 950 tahun.

Sunnah Nabi Sebagai Bahtera Keselamatan

Kisah bahtera Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memberikan pelajaran berharga tentang ketaatan. Imam Malik rahimahullah pernah memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai pentingnya mengikuti petunjuk rasul:

السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Sunnah adalah bahtera Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”

Untuk selamat di dunia dan akhirat, setiap muslim hendaknya senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menjauhi perbuatan bid’ah. Sikap ittiba’ atau mengikuti tuntunan Nabi secara murni adalah kunci keselamatan.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Gigihnya Dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56112-gigihnya-dakwah-nabi-nuh-alaihis-salam/